Skip to content
BisnisLife.com

BisnisLife.com

Info Bisnis & Lifestyle Terpercaya

Primary Menu
  • HOME
  • News
    • Pemerintahan
    • Pendidikan
  • bisnis
    • Industri
    • Bank
    • Finansial
    • Asuransi
    • Telko
    • UMKM
  • BUMN
  • Teknologi
  • Properti
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • TOKOH
  • Lifestyle
    • Selebritas
    • Beauty
    • Food
    • Komunitas
  • Showbiz
    • FILM
    • Musik
  • Travel
  • Hotel
search
  • EDITOR PICK
  • Kesehatan
  • Lifestyle

“Morning Surge”, Fase Paling Berbahaya Bagi Pasien Hipertensi

Ochi April 20 November 2025
Bayer 3

dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal dan Hipertensi. Foto: Ochi April

Bisnislife.com — Salah satu fase paling kritis yang kerap luput dari perhatian pasien hipertensi adalah morning surge—lonjakan tekanan darah tajam yang terjadi antara pukul 06.00–10.00 pagi.

Pada rentang waktu inilah risiko terjadinya serangan jantung dan strok meningkat signifikan, terutama bagi pasien dengan hipertensi derajat sedang hingga berat.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal dan Hipertensi, dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH, dalam kelas media bertajuk “The Science Behind: The Importance of 24-hour Hypertension Management” pada Kamis (20/11/2025) di Jakarta menjelaskan bahwa fenomena morning surge harus menjadi perhatian utama.

“Morning surge adalah momen paling berisiko. Lonjakan tekanan darah setelah bangun tidur dapat memicu strok atau serangan jantung, terutama pada pasien hipertensi derajat 2 dan 3. Karena itu, pasien perlu melakukan pengecekan tekanan darah secara mandiri di pagi dan malam hari, serta patuh menjalankan pengobatan agar tekanan darah terkendali selama 24 jam,” ujar dr Tunggul

‘Silent Killer’ yang Sering Terlambat Disadari

dr. Tunggul menegaskan bahwa hipertensi memiliki julukan the silent killer bukan tanpa alasan.

“Kondisi ini sering tidak bergejala, tetapi diam-diam dapat menyebabkan kerusakan pada organ vital seperti jantung, ginjal, otak, dan pembuluh darah. Banyak pasien baru sadar mengidap hipertensi setelah mengalami komplikasi serius seperti strok, kerusakan ginjal, atau serangan jantung,” jelasnya.

Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan besar yaitu 81,1% pasien hipertensi tercatat belum mencapai tekanan darah terkendali. Faktor utamanya adalah rendahnya kepatuhan minum obat dan minimnya pemantauan tekanan darah secara mandiri.

Pola Hidup Sehat dan Terapi 24 Jam

“Hipertensi terjadi ketika tekanan darah arteri berada di atas 130/85 mmHg secara konsisten. Karena bersifat kronis, pengelolaannya membutuhkan pendekatan holistik: kombinasi antara pengobatan dan gaya hidup sehat,” kata dr Tunggul.

Oleh karena itu, sambungnya, pasien dianjurkan untuk, menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan seimbang dengan banyak sayur, buah, dan protein, membatasi garam, berolahraga minimal 30 menit, 3–5 kali per minggu, menghindari alkohol dan berhenti merokok

“Kebiasaan tersebut menjadi dasar untuk menjaga tekanan darah tetap terkendali sepanjang hari, termasuk mencegah morning surge yang membahayakan,” ujarnya.

Peran Pasien dalam Pengelolaan Hipertensi

Lebih lanjut dr. Tunggul menegaskan bahwa kendali hipertensi tidak hanya bertumpu pada dokter.

“Dokter hanya dapat menilai kondisi dan menyesuaikan terapi berdasarkan data yang diberikan pasien—mulai dari catatan tekanan darah, kepatuhan obat, hingga keluhan harian. Semakin lengkap datanya, semakin tepat keputusan klinis yang dapat diambil,” katanya.

Data mandiri tersebut menjadi acuan untuk menentukan intensifikasi terapi, pergantian obat, atau modifikasi gaya hidup.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi aktif antara pasien dan tenaga kesehatan.

“Tidak semua obat anti hipertensi sama. Obat yang ideal harus berbasis bukti ilmiah, terjangkau, dapat ditoleransi pasien, dan terbukti bermanfaat pada populasi yang dituju,” jelasnya.

Berbagai penelitian klinis menunjukkan bahwa penurunan tekanan darah sistolik sebesar 10 mmHg dapat: Mengurangi risiko strok hingga 27%, menurunkan kejadian kardiovaskular mayor hingga 20% dan mengurangi risiko gagal jantung hingga 28%

Temuan tersebut menegaskan pentingnya konsistensi minum obat, pemantauan tekanan darah, dan pengelolaan gaya hidup untuk mencegah komplikasi serius dan menjaga kualitas hidup pasien hipertensi.

Post navigation

Previous: Mengapa Pengelolaan Hipertensi 24 Jam Sangat Penting?
Next: BPP HIPMI Resmi Luncurkan Badan Semi Otonom Hipmi Running Club

berita terkait

LMKN Fahmi
  • EDITOR PICK
  • Musik
  • News

LMKN Segera Umumkan Penerima Royalti Unclaimed Senilai Rp70,4 Miliar

Ochi April 13 Januari 2026 0
LMKN
  • EDITOR PICK
  • Musik
  • News

LMKN Himpun Royalti Rp175 Miliar Sepanjang 2025, Distribusi ke 16 Ribu Pemilik Hak

Ochi April 13 Januari 2026 0
IMIGRASI
  • EDITOR PICK
  • News
  • Pemerintahan

Imigrasi Tetap Buka Layanan Terbatas Selama Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026

Ochi April 31 Desember 2025 0

Highlights

LMKN Fahmi
  • EDITOR PICK
  • Musik
  • News

LMKN Segera Umumkan Penerima Royalti Unclaimed Senilai Rp70,4 Miliar

Ochi April 13 Januari 2026 0
LMKN
  • EDITOR PICK
  • Musik
  • News

LMKN Himpun Royalti Rp175 Miliar Sepanjang 2025, Distribusi ke 16 Ribu Pemilik Hak

Ochi April 13 Januari 2026 0
IMG-20260112-WA0006
  • Bisnis

JCI Indonesia Lantik Siegfried Listijosuputro sebagai National President 2026

Irfan Laskito 12 Januari 2026 0
RSUD Aceh Tamiang
  • Bisnis

Kolaborasi Pertamina – RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang

Irfan Laskito 4 Januari 2026 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi
Copyright ©BisnisLife All rights reserved.
Go to mobile version